Jalan Panjang Menuju Negeri di Awan (Semeru 3676 mdpl)


’Summit Attack’. Sebuah istilah yang malam itu terdengar di kuping, seperti  menandakan kita akan menyerang sebuah  puncak. Pagi itu pukul 00.00 kita sudah bersiap-siap melakukan perjalan terakhir menuju puncak Semeru. Setelah semua persiapan dilakukan, akhirnya tim mulai melangkahkan kakinya menuju puncak tertinggi di jawa. Sambil terengah-engah melawan udara dini hari yang sangat menusuk, tim kami berjalan tanpa berbicara sedikit pun. Semua sibuk dengan nafasnya masing-masing.

Kalau mendengar kata Semeru, para pegiat alam dimana pun pasti langsung menceritakan pesona alam yang dimiliki oleh gunung ini. Semeru merupakan gunung tertinggi di pulau jawa, dengan ketinggian 3.676 mdpl (meter di atas permukaan laut) gunung ini memiliki pemandangan yang sangat indah. Saat memasuki kawasan Taman Nasional ini, anda akan di sambut oleh suasana pedesaan yang masih sejuk. Desa Ranupane adalah tempat peristirahatan terakhir sebelum para pendaki memasuki hutan Semeru. Desa ini memiliki dua danau mungil, Ranu Pane (1Ha) dan Ranu Regulo (0,75 Ha). Selain itu, keharmonisan yang ada di desa ini membuat saya ingin selalu dating kembali.

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 7 Agustus 2006, kami Blue Hikers Sastra Unpad melakukan pendakian ke  gunung Semeru. Tiba di Ranupane pada tanggal 8 Agustus 2008, tim kami langsung  melakukan persiapan pendakian untuk hari berikutnya. Alat-alat pendukung, logistik, fisik dan lain-lain harus disiapkan semaksimal mungkin, karena kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan pendakian. Hari pertama, kami menuju Ranu Kumbolo. Ranu (danau) indah ini dikelilingi pegunungan di ketinggian 2.400 mdpl dengan luas 14 Ha. Pemandangannya indah. Matahari terbit di sela-sela pegunungan. Di kelilingi padang rumput luas dengan sedikit pepohonan cemara. Kabut sesekali datang melayang di atas air dan langit biru terbentang. Kami pasang tenda dan menyalakan api unggun untuk mengusir dingin malam. Di Ranu Kumbolo saat cerah kita bisa menyaksikan kepulan asap Semeru. Jarak Ranupane-Ranu Kumbolo sekitar 8,5 Km. Dapat ditempuh selama 6-7 jam. Jalurnya cukup landai. Bukit di sepanjang jalur didominasi ilalang, sisanya adalah cemara hutan dan pinus.

Di hari kedua. Setelah membereskan semua barang-barang, tim kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kalimati pada jam 8 WIB. Sepanjang perjalan menuju Kalimati, kita akan melewati pandang savana yang sangat luas. Sebelum melewati padang savana, kita akan bertemu dengan Tanjakan Cinta yang lumayan menguras tenaga. Air merupakan hal penting yang tidak boleh terlupakan. Apalagi perjalan hari ini cukup jauh. Jaraknya hampir sama dengan hari pertama, 5-6 jam. Panas, gersang, dan indah adalah pemandangan yang kita temui. Kira-kira pukul 15.30, tim kami sudah samapi di lokasi ‘camp’. Sambil merenggangkan otot, seluruh tim sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Di Kalimati, kita memerlukan istirahat yang cukup, karena malam harinya kita akan terbangun terus sampai pagi. ‘Peuting  Summit Attack euy’ (nanti malam serangan fajarni ) kata salah seorang dari kami. Jadi, malam itu, jam 1900, kita memutuskan untuk tidur, supaya kondisi badan  cepat pulih.

Tengah malam kami “merangkak” ke Mahameru (Puncak Semeru). Waktu tempuh Kalimati – Mahameru sekitar 5-6 jam. Kami cuma membawa pakaian hangat di badan, air, dan aneka biskuit, masker, kacamata, dan alat dokumentasi. Meski malam hari, ternyata debu di jalur tidak  “tidur” dan malah semakin menjadi. Debu dari Mahameru yang seperti gerimis sesekali memercik ke mata dan menimbulkan perih. Udara yang semakin miskin oksigen  membuat nafas tersengal. Tetapi “pos”

Arcopodo di ketinggian 2.900 M dpl kami lalui dengan cepat. Arcopodo, pos terakhir, tempat dimana para pendaki mengisi nafasnya. Tepat di depannya hanya ada pasir. Wilayah vegetasi terakhir yang ada di lereng Semeru. Dengan tekat yang berapi-api, tim kami melakukan perjalanan yang sangat panjang pagi ini. Jalur pasir tersebut ditempuh dalam waktu 3-4 jam, di temani oleh udara dingin yang membuat nafas terasa sulit  sekali dikontrol. Apakah anda dapat membayangkan susahnya jalan di pasir?

Setelah perjuangan yang cukup menguras tenaga, Sang Surya mulai menyapa tim kami dengan hangatnya. “Sunriiise…….Puuncaaak!”,  teriak tim kami gembira sambil sujud dan meneteskan air mata. Tepat jam 06.38 tim kami sampai di puncak Mahameru. “Indah sekali!” Kata tersebut mewakili perasaan hatiku saat itu. Setelah itu jepretan foto-foto langsung menghidupkan suasana.  Puncak Mahameru memiliki kawah Jonggring Saloka yang tiap 10-15 menit sekali mengeluarkan awan panas, atau biasa disebut WedusGembel. Waktu aman di Mahameru hanya sampai jam 10.00 WIB.  Setelah itu, nyawa taruhannya karena muntahan material panas dari kawah Jonggring Saloka akan cenderung mengarah ke arah puncak, tepat para pendaki berkumpul. Setelah melewati perjalanan menuju negeri di awan ini, tim kami segera menuruni  puncak dan tiba di Ranu Kumbolo sore hari. Keesokannya, diteruskan menuju Ranupane.

 

3 thoughts on “Jalan Panjang Menuju Negeri di Awan (Semeru 3676 mdpl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s