“Superbad” dari Bandung untuk Jakarta


Perhelatan scene lokal yang sudah lama dinanti-nantikan. Bagi saya pribadi yang sekarang domisili di Hell City (Jakarta), acara seperti inilah yang saya tunggu-tunggu. Crowd yang sedikit padat, komunikasi terjadi dimana-mana, dan harmonisasi nada yang disajikan malam itu membuat uporia tersendiri dalam diri saya. Luar biasa bahagia! (edan ga? )

 

Tulisan ini terputus begitu saja selama beberapa hari, jadwal padat sedikit menguras waktu yang tersedia. Sampai akhirnya saya berusaha berfikir keras untuk mengingat apa yang terjadi pada malam itu. Tepatnya, 2 minggu yang lalu, tanggal 22 mei 2011, kira-kira pukul 21.00 gelaran ini dimulai.

Sebelum acara ini dimulai, saya sempat bertemu dengan beberapa orang yang namanya sudah tidak asing lagi, diantaranya Gebeg yang malam itu akan membantu Homogenic, Dada sang manager Homogenic, Elang sang penentu irama mulut dari Polyester Embassy, dan para sahabat. Mengapa saya sebut para sahabat? Karena pada malam itu, memang suasananya sangat Bandung walaupun berada di Jakarta. Sahabat-sahabat semasa hidup di Bandung pun berdatangan. Dan Bahasa yang digunakan pun adalah Bahasa Sunda pastinya.

Hampir satu jam kami berbincang-bincang, dan Gebeg sudah mulai mengeluarkan jurus mautnya untuk membuat kita terpingkal-pingkal, itu artinya kita sudah mulai “ngeunah”  (enak), kalo kata orang Sunda. Akhirnya kami semua memutuskan untuk masuk ke venue, karena sudah terdengar suara dari Cuts, Band Bandung yang pernah masuk dalam kompilasi LA Light Indiefest. Bener ya? Disaat ingin masuk pun, sempat bertemu dengan pentolan Omonium, Boit. Ada juga terlihat Risa dari Sarasvati yang akan masuk berbarengan dengan kami.

Sampai di dalam, suasananya sangat horror sekali. Itu adalah kesan pertama saya saat melihat Jaya Pub. Saya langsung melihat kesekeliling dan terkesima dengan tempat itu. Lokasi stage yang berada ditengah-tengah bar sebenarnya mengganggu pandangan, tetapi nikmati sajalah suasana pub lawas ini. Pub yang berdiri sejak tahun 1976 ini memang masih terlihat ke-orisinalitasnya, dari poster gigs, foto-foto homeband, dan terutama para waitress serta pekerja lainnya. Umur mereka pun sangat terlihat diatas angka 30. Maaf saya terlalu mendeskripsikan mereka, soalnya saya selalu tertarik dengan tempat yang memiliki unsur sejarah didalamnya.

Kembali lagi pada Superbad, setelah Cuts, giliran Hollywood Nobody yang menjadi pusat perhatian. Saya pernah melihat beberapa kali penampilan mereka di Bandung, dan malam ini mereka tampil sangat keren. Ada beberapa lagu yang di cover, aduh jadi lupa lagi lagu apa yang dicovernya! Karena kelamaan nih!

Setelah Hollywood Nobody, inilah saat yang saya tunggu, Sir Dandy. Sir Dandy adalah sosok fenomenal buat saya. Mungkin nanti saya akan membahas khusus untuk sosok ini. Sulit untuk diungkapkan dengan tulisan soalnya, lebih pas diungkapan lewat lisan, bisa ngomong sepuasnya. Malam itu Sir Dandy benar-benar fals dan tidak serius, tapi sangat luar biasa menarik semua mata kearahnya. Bingungkan sama tulisannya? Bayangkan sosok Sir Dandy ini yang baru belajar gitar sudah mengeluarkan album ber-title #Lesson 1 dan hits. Gilakan? Dengan lagu andalan Juara Dunia malam itu Sir Dandy membuat atmosfir yang berbeda dari yang lainnya. Bayangkan disaat Sir Dandy ingin membaca puisi, Ade Paloh (add gitar) malah bertanya “emang ada puisi?” semua langsung tertawa. Sir Dandy lalu mengeluarkan kertas kosong dan membaca puisi berjudul “Kerja”. Memang seniman edan!

Homogenic juga berhasil membawa suasana. Aroma elektronik dengan paduan Gebeg pada drum sangat sempurna. Ini adalah pertama kali saya melihat penampilan Homogenic dengan vokal barunya. Lucu juga. Ups! Dina yang sedang cuti hamil tidak bisa menemani aksi mereka malam itu. Dan yang menjadi fokus dari Homogenic adalah Gebeg. Lucu memang, tetapi bit-bit yang dikeluarkan oleh Gebeg memang patut diacungi jempol. Luar biasa.

Terakhir adalah Polyester Embassy yang memanaskan stage. Debut album baru mereka saat ini sudah hadir di took-toko CD. Saya belum mendengar, tetapi lewat Superbad saya akhirnya bisa mendengarkan. Mereka membawakan beberapa single terbaru. Menurut saya permainan mereka semakin matang. Dan saya belum bisa menjabarkan musik mereka dari pertama mendengarkan albumnya. Electronic rock experimental  adalah genre menurut mereka.

Superbad sekali lagi membuat saya sedikit nostalgia dengan masa indah hidup di Bandung. Nuansa Eropa yang tidak ada di sisi lain Indonesia. Biarpun sedikit berlebihan tidak apa, karena saya selalu menyebut bandung sebagai Eropa-nya Indonesia. Superbad ini diprakarsai oleh tim yang sudah tidak asing di Bandung. Marin dkk. Thanks.

2 thoughts on ““Superbad” dari Bandung untuk Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s