Komunal dalam Bandung Menghitam


“Sabtu segan”, 11 Juni 2011, kalau kata para “SumatraJointritual” yang sudah beberapa tahun menjadi keluarga besar saya di Bandung. Sahabat yang selalu bisa membuat hati dan mulut ini bebas berbicara semaunya dan tertawa sepuasnya. Mereka adalah salah satu pioneer heavy metal di Indonesia. Sebagai  anak rantau yang sudah menjadi warga Bandung tanpa KTP selama lebih dari 10 tahun, sepak terjang mereka sangatlah berbahaya. Ada 2 band besar yang berasal dari tanah rantau ini. Komunal dan Rajasinga. Dekat dengan komunitas ini membuat saya banyak sekali belajar, dari pola pikir, lifestyle, kreatifitas, dan persahabatan yang mereka ciptakan membuat saya semakin merasakan bahwa “Hidup ini memang benar-benar indah.” Yeah!

Sabtu kemarin merupakan sebuah momen bersejarah bagi para metalhead Bandung, karena apa? Akhirnya mereka tau bahwa Komunal akan berhadapan dengan puluhan ribu metalhead di lapangan Brigif Cimahi malam itu. Mungkin sebagian kecil dari puluhan ribu metalhead sudah mengenal Komunal, tetapi melihat respon penonton,sepertinya mereka hanya tahu namanya saja tanpa pernah melihat live performance-nya. Dan dalam event “Bandung Brisik” kali ini, para metalhead bisa merasakan betapa berbahayanya Komunal.

Crowd yang sangat segan “Bandung Brisik 2011”

Saya tidak akan membahas secara detail event ini, saya hanya akan membahas yang saya mengerti dan tidak neko-neko apa adanya. Ilmu tentang permetalan yang saya tahu hanya sebatas mendengarkan Metallica, Sepultura, Obituary, dan Slayer. Itupun tidak terlalu mendalam. Maklum dimasa SMA yang masih labil, membuat saya mendengarkan apapun jenis musik. Sampai sekarang pun saya masih melakukan itu, tetapi sedikit-sedikit mempelajari apa yang ada dibelakangnya.

Kembali pada Bandung Brisik, kebetulan saya datang bersama Komunal. Dan sudah sejak tahun 2005 saya selalu membantu para sahabat saya ini. Saya mempersiapkan apa yang Ai butuhkan (Drumer) di stage. Setting alat dan segala yang Ai butuhkan semaksimal mungkin saya lakukan. Inilah ilmu yang saya ambil sebenarnya. Managemen dan teknis.

Kami sudah merapat ke venue tepat sore hari disaat matahari mulai malu ingin pergi. Waktu tepatnya kira-kira pukul 16.00 WIB (waktu Indonesia bagian Bandung). “Hari ini Bandung menghitam!”, Karena hampir semua orang datang dengan menggunakan baju hitam. Lapangan yang biasa dijadikan tempat latihan TNI, sore itu berubah menjadi lautan hitam manusia. Merinding juga saat masuk ke venue, aksesnya cuma jalan kecil yang kalau 2 mobil berpapasan akan sulit walaupun bisa.

Kordinasi kami lakukan oleh pihak panitia. Dan ternyata sangat Indonesia, “MOLOR” hampir 1 jam lebih. Komunal yang seharusnya naik stage setelah Magrib, jadi setelah Isya, akhirnya kami menikmati sore yang indah itu dengan jalan keliling venue. Doddy Hamson, sang pentolan Komunal pasti menjadi pusat perhatian, style yang sedikit mencolok, kemeja semi batik kecoklatan, celana baggy, dan kacamata hitam bulat membuat dia selalu ditarik para fans untuk berpose. Inilah bukti bahwa Komunal sudah semakin dikenal walaupun belum semua mengenalnya.

Break magrib akhirnya kami kembali ke mobil dan mulai loading barang ke backstage. Pada event ini Komunal tidak full personel. Crew yang biasa membantu kebetulan sedang banyak job diluar, jadi yang terlibat hanya saya di drum dan 2 manager yang merangkap jadi crew. Biarpun begitu the show must go on, right?

Persiapan kami lakukan dengan hati-hati melihat penonton yang semakin liar. Backstage yang sangat penuh dengan manusia, sedikit mencairkan suasana. Rasa gerogi pasti hadir disetiap muka yang ada dibackstage. Tak lama, akhirnya giliran Komunal . Dengan besarnya stage, panitia memberikan 2 backstage,sudut kiri dan kanan stage, lalu drumset pun punya satge kecil yang dapat bergerak menuju tengah. Jadi teknisnya, setiap band selesai perform, drumset pun digeser kesisi awal, entah kiri atau kanan stage. Kami main setelah Rosemary, dan disaat Rosemary main, saya sudah menyetting drum. Lebih tepatnya memasang dari awal, karena rata-rata membawa set drum sendiri. Luar biasa! Ini acara undergroundkan?

Hell Yeah, Komunal mulai memanaskan stage Bandung Brisik malam itu tepat pukul 19.00 lebih. Crowd mulai meneriakkan judul-judul lagu dari album Hitam semesta dan Panorama. “Manusia baja, Ilmu tentang Racun, Pasukan Perang dari Rawa”, dan samar-samar teriakan dari kejauhan lainnya. Doddy Hamson dengan gaya khasnya mulai melenggak-lenggok diatas stage. Malam itu, sayangnya Komunal hanya membawakan 4 lagu dari yang tadinya 6 lagu. ‘Pemuda belati’ menjadi pembuka, disusul ‘Manusia Baja’, lalu lagu baru yang memiliki lirik sedikit politis ‘Gemuruh Musik Pertiwi’, dan pamungkas ‘Pasukan Perang dari rawa’.

Foto ga ada yang maksimal wak!

Kalau dilihat secara keseluruhan dari kacamata saya, malam itu Komunal kurang puas. Karena banyak hal yang tidak sesuai dengan yang dibicarakan. Tetapi, mau bagaimana lagi? Kalau kata Doddy, “Hajar ajalah!” Dan saat diwawancara dengan media pun Doddy menjawab dengan jujur tentang event ini, “Menurut kami acara ini biasa aja!” Jawaban yang luar biasa ganas menurut saya. SEEEGAAANN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s