KOMUNAL: Gemuruh Musik Pertiwi


“Tanpa harapan, tanpa diragukan karena sudah dipastikan kehebatannya.” Satu kalimat yang memiliki makna sangat arogan ini memang pantas keluar dari sebuah album dengan materi yang padat dan tanpa basa-basi.

Hampir 2 bulan sudah Gemuruh Musik Pertiwi menunjukan batang hidungnya di permukaan bumi Indonesia ini. Dan saya masih mencari dari sudut mana saya akan mulai menulis tentang album ini. Entah apa yang sedang terjadi dengan isi kepala saya akhir-akhir ini. Apakah saya semakin sadar, bahwa musik Indonesia itu lebih berkualitas dibanding dengan musik disekitar Indonesia? Atau malah mundur? Kalian penikmat pasti punya presepsi masing-masing untuk hal ini.

Oke, marilah kita mulai membahas tentang album yang bakal menjadi fenomenal di skena musik Indonesia. Gemuruh Musik Pertiwi. Komunal  adalah kumpulan manusia bertalenta yang bertanggungjawab penuh atas album ini. Para pemuda asal Sumatra dan Kalimantan yang mengeksplorasi musik di Bandung ini, namanya mulai hangat sejak tahun 2008, setelah masuk dalam jajaran album terbaik versi Rolling Stone Indonesia.

Pertama kali mengenal Komunal, merupakan pintu baru dalam diri saya untuk lebih mengenal Heavy Metal yang ada di Indonesia. Memang, pasti masih banyak musik yang sangat berkualitas di Negeri ini selain Komunal. Tapi menurut saya, kekuatan musik itu terletak pada jiwa, kreatifitas dan attitude pelakunya. Nah, hal ini mungkin yang membuat Komunal berbeda dengan yang lain. Perhatikan saja sang vokalis, Doddy Hamson. Dari awal saya memerhatikan, mulai kelakuan di panggung, karakter vokal, attitude, life style dan gaya bicaranya sangatlah “simbol perlawanan atas nama seni.”

Sial, alur tulisan ini jadi ngalor-ngidul, karena saat ini saya malah mendengarkan album Hitam Semesta  dengan tempo yang masih lumayan cepat. Okelah balik lagi ke Gemuruh Musik Pertiwi.

Proses Rekaman

Rekaman yang dilakukan hanya sehari dan direkam secara live, bagi saya adalah pilihan yang kurang masuk diakal, pada awalnya. Karena, buat apa? jaman serba digital, kok malah memilih rekaman liveEdiyan. Apakah hasilnya bakal maksimal? Pertanyaan-pertanyaan itu menghingapi kepala saya selama proses rekaman berlangsung.

Pada proses ini, kebetulan saya ikut andil sejak sehari sebelumnya dan besok paginya, sejak nge-set alat sampai proses rekaman selesai dikala senja  menjelang. Art Sound Studio yang terletak disekitaran Kelapa Gading, adalah studio yang menjadi saksi hidup terciptanya album Gemuruh Musik Pertiwi.

Membutuhkan 1 shift sendiri untuk set alat dan lain sebagainya. Dan berarti hanya ada 1 shift tersisa untuk memerkosa set alat itu. Terlihat ada sedikit kekhawatiran pada raut wajah para personilnya. Tapi dengan professional, Komunal bisa menyelesaikan sesi recording tersebut.

Saya baru menyadari, setelah beberapa minggu kemarin, dari 9 lagu yang disajikan pada album Gemuruh Musik Pertiwi, mereka hanya melakukan 2 kali take per lagu. Dan rata-rata rekaman pertama yang mereka ambil untuk masuk dalam album. SEGAN.

Album

Dari 9 lagu yang ada pada album Gemuruh Musik Pertiwi, lagu favorit saya adalah Sisilia Senandung Sang Bapa. Entah kenapa? Mungkin karena masih terasa benang merah antar lagu itu dengan album-album komunal sebelumnya, Hitam Semesta dan Panorama. Itu pandangan pribadi saya.

Saya juga punya urutan sendiri untuk mendengarkan Gemuruh Musik Pertiwi ini. Diawali dengan Sisilia Senandung Sang Bapa yang merupakan lagu ke 8, dilanjut dengan Ngarbone, lalu mulailah Gemuruh Musik Pertiwi, Bakar Kibar, Rock Petir, Pada Mu Negeri, Adong Nang Diada, Lagu Berani dan Esokan Makan Apa? Hidup Adalah Narkotik.

Saya akan mengulas habis album Gemuruh Musik Pertiwi dari sisi bahasa dengan kacamata Semantik (makna). Terlalu sok ga bahasanya? Haaaa. Saya akan menulisnya secara terpisah tentang hal ini. Kenapa terpisah? Karena sampai sekarang, saya masih mencari-cari apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan pada album Gemuruh Musik Pertiwi. Damn, terlalu skip akhir-akhir ini!

Baca ajalah lirik yang lumayan menempel diotak dari semenjak album Gemuruh Musik Pertiwi release, Rock Petir;

“Dalam nada bagaikan besi, Simbol perlawanan atas nama seni”

Bagaimana menurut kalian? Silakan interpretasikan sendiri lirik itu dan saya sudahi dulu tulisan tanpa arah ini. #aturketinggan

DPF, 310512

3 thoughts on “KOMUNAL: Gemuruh Musik Pertiwi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s