Ibu-ibu ngeblog di 711


Apakah bisa ibu-ibu yang sudah memiliki anak ikutan masuk menjelajah di era digital? Emangnya mereka ga sibuk ngurus anak? Emangnya mereka akan mengerti? Terus, kalau sudah diajarkan, emang bakal dipraktikkan secara serius? Yakin bisa konsisten?

Pertanyaan itu muncul sehari sebelum pertemuan dilaksanakan. Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, saya akhirnya melangkah menuju Sevel (Seven Eleven) Kreo, Ciledug, Sabtu, 23 November 2013 dengan rasa penasaran yang sangat menggebu. Dan dalam hati, saya berpikir, siapa tau bakal ada ibu-ibu yang lucu haaaaaaa.

Oke, balik lagi ke topik permasalahan. Sebelumnya, saya sudah pernah dengar tentang satu komunitas yang berisi Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) ini dari sahabat saya, Ligya Pecanduhujan (Gya). Gya sering bercerita tentang kegiatan ibu-ibu ini. Disamping itu, Gya adalah seorang ibu muda yang memiliki segudang kegiatan sosial yang luar biasa edan. Salah satu diantaranya, Gya sudah mengeluarkan beberapa buku. Buku yang diterbitkannya adalah hasil dari tulisan IIDN yang terseleksi. Prosesnya pun sangat menarik, tapi saya ga akan bercerita disini.

Dari latar belakang cerita inilah yang membuat saya begitu semangat untuk berbagi seputar dunia digital dan media sosial. Saat tiba di lokasi, ada sekitar delapan ibu-ibu yang sudah siap dengan senjatanya, laptop, tab, dll. Dimulai dengan Gya berbagi cerita dan pengalaman seputar penulisan di microsite, blog. Dia bercerita tentang bagaimana membuat blog yang baik, tema apa yang sebaiknya diangkat, bagaimana sebuah blog bisa menghasilkan uang, dan lain-lain. Saya pun sebenarnya mencuri ilmu dari Gya, dia aja ga sadar :))

Setelah Gya selesai, baru giliran saya yang berbicara. Saya hanya berbicara seputar penggunaan media sosial sebagai sarana pendukung tulisan ibu-ibu tersebut. Intinya, jika tulisan sudah berhasil terupload di blog, bagaimana caranya agar tulisan itu bisa dibaca oleh khalayak internet? Nah, media sosial adalah salah satu sarana yang pas untuk menggiring traffic pada blog itu. Selain itu, yang paling saya tekankan adalah, tentang penggunaan media sosial di Indonesia yang masih kurang maksimal. Kenapa kurang maksimal? Sampai saat ini, jika kita perhatikan, contohnya di Facebook (FB), masih banyak yang menganggap bahwa FB itu hanya sebuah mainan, yang hanya digunakan untuk meng-update status. Padahal dari FB, kita bisa mendapatkan banyak keuntungan, contohnya, informasi terkini dari setiap portal news yang ada didunia, membuat grup khusus untuk jualan jika kita seorang pedagang, FB memberikan traffic terbesar bagi website-website raksasa dunia dan masih banyak lagi. (Jangan ditulis deh, moodnya lagi ngawur nih, ngobrol aja yuk!)

Sudah pasti, yang namanya ibu-ibu ini pasti punya segudang pertanyaan setelah diberikan informasi. Salah satu pertanyaannya adalah, tentang bagaimana aktivis-aktivis media sosial bisa mendapatkan revenue dari dunia digital. Dan selebihnya adalah hal-hal teknis tentang blog dan media sosial. Pokoknya seru abis!

Dari delapan ibu-ibu itu, ada satu ibu yang membuat saya makin semangat untuk berbagi. Ibu Rahmi Mulyani adalah ibu yang sudah tergolong sepuh dibanding ibu-ibu yang lain. Beliau pernah mengalami masa pahit dalam hidupnya, karena penyakit yang dideritanya. Walaupun begitu, Beliau tergolong ibu yang cerdas, karena sudah mengenal berbagai bahasa tentang dunia digital. Beliau terbiasa dengan Google, FB, twitter dan nge-blog. kekurangan Ibu Rahmi adalah, Beliau ingin melahap semua yang ada di dunia digital.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sudah sekitar 3 jam saya, Gya dan Ibu-ibu berdiskusi melanglangbuana kemana-mana. Saya akhirnya undur diri dikarenakan masih ada kepentingan lain dihari itu. Ibu-ibu belum beranjak bubar saat saya pergi sore itu. Mereka masih sibuk dengan gadget nya masing-masing dan semakin semangat bereksperimen dengan blog dan media sosialnya.

Dikarenakan mood menulis makin ga bener, saya memutuskan untuk mengakhiri tulisan ini dengan memberikan qoute yang tak seberapa hebat.  Wassalam. (DPF)

“Memberikan semangat untuk diri sendiri merupakan langkah yang pas untuk belajar mengenai hidup.”

Ini dia bukti kalau kami nongkrong di 711

Ini dia bukti kalau kami nongkrong di 711

One thought on “Ibu-ibu ngeblog di 711

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s